#PiyambakanTrip: 3 Hari Tak Terlupakan Di Ubud

Ubud, The land of beauty

Ubud, tempat yang takkan terlupakan bagiku. Semenjak mengetahui Lala pindah ke Ubud, aku sudah mulai membayangkan Ubud, mendengar ceritanya saja sudah membuatku terlena. Sebenarnya aku sudah pernah mengunjungi Ubud, namun ya karena hanya berkunjung sebentar saja, aku tak pernah memiliki ingatan yang tetap akan Ubud.

Sehingga ketika datang tawaran untuk menginap di kost Lala dan merasakan Ubud, aku tidak melewatkannya begitu saja. Merasa kurang, aku pun mencari hotel yang harus memuaskanku akan alamnya Ubud. Aku tidak memiliki planning khusus di Ubud, hanya ingin menjejakkan kaki di sana lebih lama saja, awalnya. Dan terjadinya #PiyambakanTrip ini hanya untuk 3  hari yang ternyata tidak terlupakan di Ubud.

Tegalalang dan Sawah yang Terhampar

Ketika pertama kali mengetahui jadwalku di Bali, Lala terus bertanya, kamu mau naik apa ke Ubud? Dia menyarankan untuk naik shuttle saja, tapi aku yang memang turis manja dan penakut, memutuskan untuk menyewa mobil saja selama 8 jam. Berangkat dari hotel yang mengecewakanku di Kuta, sebelumnya tak lupa untuk menitipkan koper di Tune, tempat menginapku sepulang dari Ubud, aku pun berangkat dengan perasaan cemas.

Sepanjang perjalanan, aku merasa cemas dengan apa yang akan aku temui di Ubud nanti. Untunglah Bara dan Lulu sedang berkunjung ke Ubud juga sehingga aku mengajak mereka untuk jalan-jalan bareng. Supir mobil sewaan bertanya tujuan di Ubud nanti, aku yang tidak mengerti wilayah Bali, menjawab pengen ke istana Tampak Siring dan Kintamani. Ternyata tempat itu sangat jauh dari Ubud, bingung, aku pun berpikir yaudah yang penting ketemu Bara dan Lulu aja dulu.

Setibanya di Ubud, sempat tersesat mencari hotel tempat menginap Bara, hal ini terjadi karena kami memasuki Ubud dari arah yang salah. Ternyata Bara menginap di hotel yang sempat aku incar. Bersama Bara dan Lulu, kami segera mencari tempat makan siang di sekitaran Ubud. Walaupun sudah nggugling resto-resto yang menarik, akhirnya kami mempercayakan pilihan kepada pak supir. Dia membawa kami ke Tegalalang yang merupakan sebuah kawasan wisata terkenal dengan pemandangan sawah terasering khas Ubud.

Untuk memasuki kawasan ini kita harus membayar 5ribu di pintu masuk plus karcis untuk mobil juga. Tapi begitu melirik ke kanan, pemandangan sawah terasering segera menyambut orang yang memasuki Tegalalang. Dan aku pun bersyukur akan terwujudnya perjalanan ini. Segala kecemasan tadi pun menghilang!

Teras Padi Cafe dan Pemandangan Sawah Terasering

Sawah Terasering di Tegalalang

Kami memilih untuk makan di Teras Padi Café, sebuah resto yang terkenal di Tegalalang. Resto ini bertempat di dinding bukit sehingga tingkatan bangunannya menurun mengikuti kontur tanah. Dan seperti biasa aku memesan sambal Matah. Harga di Teras Padi Café sangat bersahabat bagiku.

Hidangan di Teras Padi Cafe

Pilihan tempat duduknya beragam, kami sampai pindah karena ingin mencoba bale-bale dengan bantal sofa yang terlihat empuk itu. Pemandangan Tegalalang begitu indah membuat kami melupakan waktu ketika berada di sana. Pak supir hanya tersenyum dan bertanya “yakin sudah mau pulang?” saat kami akhirnya memutuskan untuk beranjak.

Night Life at Ubud Downtown

Ubud memang tidak terlalu luas, apalagi pusat kotanya (Downtown, ini istilah Lala) bisa diputari dengan jalan kaki. Di Downtown Ubud terdapat banyak resto yang enak dan selalu rame. Selain itu Downtown Ubud juga dipenuhi oleh butik-butik dari beberapa merk ternama dan local. Sayang harganya mahal-mahal. Aku sempat memasuki sebuah toko souvenir dan kaget melihat harga sebuah kalung manik-manik 50ribu. Kalung yang bila aku cari di Malioboro bisa didapat dengan harga 5ribu saja.

Malam itu aku, Bara, Lulu dan Lala diajak untuk nongkrong di Ubud oleh Bli Adit dan Zenna yang juga lagi main ke Bali. Aku pikir mencari tempat nongkrong malam hari di Ubud mudah seperti di Kuta, jadi aku agak heran dengan kecemasan Lala ketika kami belum berangkat juga padahal sudah jam 9 malam. Tapi kecemasannya terbukti benar.

Begitu kami berempat menyusuri Downtown Ubud, banyak resto dan café yang sudah bersiap tutup. Tujuan kami adalah Laughing Buddha, sebuah resto yang lagi happening, ternyata juga rame. Untungnya Lala teringat sama orang yang tadi menyapanya dan mengusulkan untuk ke tempat orang itu, sebuah lounge di samping lapangan Ubud. Lounge itu bernama CP Lounge.

Kami pun memasuki area CP Lounge yang masih sepi padahal itu sudah jam 10 lewat. Lala bilang ini adalah satu-satunya tempat yang tutup jam 3 pagi di Ubud. Tentu saja tempat ini sepi. Makanannya sih biasa saja, harganya juga standart khas Bali. Lounge ini sangat luas dan terbagi atas 3 area, dance floor yang berada di depan pintu masuk dan area resto luar dan dalam. Kelebihan tempat ini adalah keramahan dari bartendernya. Aku memperhatikan dia sangat berinteraksi dengan ramah ke semua pengunjung yang menyapanya.

Suasana di dalam CP Lounge

Hal unik lain yang aku temukan adalah, pengunjung bule yang begitu tiba langsung ngedance dulu di dance floor baru beramah tamah dengan bartendernya. Kurasa prinsip di CP Lounge ini adalah dance first order later.

Malam di Ubud sangat sepi berbanding dengan malam di Kuta. Suasana gelap ada di jalan-jalan terutama ketika mengarah ke kos Lala. Suara jangkrik nonstop bisa kita temukan di sini, jangkrik ini gak berhenti berbunyi bahkan di siang hari. Udara Ubud yang sejuk benar-benar bikin enak tidur.

Ubud di Saat Kuningan

Kuningan adalah salah satu hari raya terbesar bagi umat Hindu Bali. Aku tidak tahu kalau aku mengunjungi Ubud di saat yang tepat. Karena Kuningan dirayakan besar-besaran di Ubud yang masih banyak pedesaannya. Sehingga ketika Lala memberi tahu bahwa mungkin kami agak susah mencari makan di Ubud di saat Kuningan, aku malah menggeretnya keluar untuk melihat suasana Kuningan.

Ternyata benar saja, Ubud jadi meriah! Penjor-penjor(hiasan janur) berdiri menjuntai di depan tiap rumah. Indah sekali bila diperhatikan dari jalanan. Kata Lala, bila di daerah perumahan yang padat, penjor ini akan bersentuhan satu sama lain sehingga terlihat seperti jalanan memiliki atap dari janur kuning. Warga Ubud merayakan Kuningan dengan mengunjungi Pura besar serta pura-pura keluarga mereka. Banyak warga Ubud luar kota yang mudik di kala Kuningan, seperti lebaran.

Penjor-penjor yang menghiasi jalanan Ubud

DI jalanan aku melihat warga-warga menggunakan baju adat Bali berjalan menuju pura. Para wanita mengenakan kebaya khas Bali yang terlihat seksi bagiku. Aku jadi pengen punya satu! Mereka membawa Gebongan di kepala mereka, bahkan tak hanya sekali, aku melihat wanita ini membawa gebongan yang gede itu di kepala mereka sambil mengendarai motor. Aku terkesima melihat kesuperan mereka!

Warga Ubud mendatangi Pura dengan pakaian tradisional

Downtown Ubud yang kemarin siang kulihat rame dengan resto dan turis-turis yang berseliweran kini dipenuhi warga, resto-resto tutup untuk menghormati Kuningan. Sehingga aku dan Lala hanya memilih sarapan di Anomali Coffee, satu-satunya tempat yang buka di pagi itu. Anomali dipenuhi oleh turis-turis yang kebingungan mencari sarapan. Di sini aku dikenalkan Lala kepada Daniel Ziv, sutradara ternama yang hobinya ngomelin Lala.

Lala dan aku akhirnya dapat sarapan di Anomali

Siang hari, hanya ada beberapa resto ternama yang buka. Kami kesulitan mencari tempat untuk meet up dengan Tata, karena hampir semua tempat ramai oleh turis. Jalanan Downtown Ubud macet dengan kendaraan turis dan warga luar kota. Bahkan ketika aku diculik untuk makan siang oleh  Dekcer dan Denny yang mau mengantarkanku ke hotel yang telah aku booking, kami terpaksa gigit jari karena resto tradisional yang kami incar juga tutup hari itu.

Weekend at Bumi Ubud Resort

Keinginanku untuk mendapatkan weekend yang perfect dikabulkan oleh Tuhan. Terima kasih untuk Bumi Ubud Resort. Aku memesan kamar di hotel ini lewat Agoda. Sempat takut kalo bakal kecewa dengan hotel ini seperti waktu di Kuta, membuatku harap-harap cemas ketika mulai memasuki jalanan hotel yang jauh dari peradaban ini.

Ternyata ketakutanku tidak terjadi. Hotel ini perfect bagiku! Hotel ini dikelilingi persawahan, lingkungan hotel begitu tenang. Banyak pepohonan menghiasi tempat ini. Staffnya ramah-ramah, walaupun jumlah mereka tidak banyak. Ketika melihat poolnya, aku langsung bersyukur telah mengambil perjalanan nekat ini. Sebuah infinity pool dengan view menghadap sawah terasering! OH MY GOD!!

Bumi Ubud Resort Swimming Pool.. Just look at the view!

Kolam renangnya biruuuu

Kamarnya berbentuk villa, sangat luas apalagi aku cuma berdua dengan dekcer. Ada dapur, dan ruang tamu. Kamar mandinya lebih luas dari kamarku di Jogja. View bathtub nya adalah langit yang luas dibatasi kaca dengan list bamboo. Di depan dan samping kamar ada teras, serta di sudut halaman ada pendopo yang bisa digunakan buat duduk-duduk di kelilingi taman. Aku langsung jatuh cinta dengan Bumi Ubud Resort!

Aktivitas sore adalah nikmatin infinity pool sambil foto-foto. Hotel menyediakan jasa pijit refleksi bila kita memintanya.  Dan malamnya kita kebingungan bagaimana cara ke Downtown Ubud yang cukup jauh dari hotel. Untunglah Bumi Ubud Resort menyediakan shuttle pulang dan pergi untuk pengunjung hotel. Supirnya sangat ramah dan mencemaskan aku dan Dekcer yang akan berjalan-jalan di Ubud berdua saja. Dia selalu mengingatkan kami untuk menghubungi dia kalau ada apa-apa.

Sunrise dari balik bukit

Walaupun sempat mengalami kejadian mati lampu saat Subuh, ini membuat kami bisa menikmati sunrise. Matahari yang menyembul muncul dari balik bebukitan sawah terasering itu begitu mempesona! Setelah menikmati sunrise, aku dan Dekcer tertidur dengan pulas sampai jam 12. Untungnya pihak hotel memahaminya dan memberikan kelonggaran untuk check out kapan pun setelah kami siap. Bahkan sarapan yang tadi kami lewatkan diubah menjadi makan siang. Poin plus buat Bumi Ubud Resort! Aku akan mengunjungi hotel ini lagi bila aku ke Ubud kelak.

Kami bahagiaaaa!

The Unforgettable Saturday Night at Downtown Ubud

Selayaknya turis pada umumnya, aku ingin merasakan suasana malam minggu di Ubud. Kali aja beda dengan tempat lain. Shuttle dari hotel mengantarkan kami ke Downtown Ubud jam 8 malam. Malam itu hujan turun rintik-rintik. Dan kami tidak ada yang membawa payung, supir Shuttle menatap kepergian kami dengan cemas setelah sebelumnya memberikan wejangan yang banyak.

Kami memilih makan malam di Tut Mak yang dari kemaren diomongin terus ama Lala. Dengan pemandangan menghadap lapangan bola Ubud *salah milih tempat* aku kembali memesan nasi campur yang ada Sambal Matahnya. Hohohoho

Untungnya maître d di sini tidak seperti tempat lain. Dia menyambut kami dengan baik, dan sempat menyarankan tempat duduk yang lain ketika kami duduk di depan jendela yang menghadap ke lapangan. Sayangnya kami terlalu keras kepala. Interior restoran sangat unik dan tidak terlalu khas Bali, lebih terasa unsur Kalimantan bagiku.

Ada kejadian lucu ketika aku dan Dekcer lagi menyantap makanan, jendela yang ada di depan kami bersebelahan dengan jalan kecil di tepi lapangan bola. Banyak orang yang melintas sambil bengong ke arah kami. Sepertinya kami kombinasi yang aneh bagi mereka. Ada seorang bapak-bapak bule yang memperhatikan kami makan dengan lahap, lalu bertanya. “is it delicious? Is it spicy?” sambil menunjuk ke arah pringku. Aku menjawab, “its delicious, not too spicy for me. Come and taste it.” (maksudnya baik). Lalu bapak bule ini membalasku, “OK, I’ll try it!” dan dia pun masuk ke resto memesan makanan yang sama. Sepertinya aku dan Dekcer bisa menjadi bintang iklan bagi Tut Mak.

Masih belum mau pulang dari Ubud, kami pun memilih untuk nongkrong di Anomali lagi. Padahal shuttle dari hotel hanya sampai jam 11 malam. Untung saja dua barista Anomali bersedia mengantarkan kami pulang ke hotel. Catatan: di Ubud tidak ada taksi, namun ada taksi tidak resmi yang menggunakan mobil pribadi, mereka hanya beroperasi sampai jam 12 di weekend dan jam 11 di hari biasa.

Penikmat malam minggu di Anomali Coffee

Pilihan kami untuk ngetem di Anomali malam itu sangat tepat. Aku dan Dekcer terlibat obrolan ngalor ngidul dengan satu seniman peranakan Jepang-Padang yang agak waras dan satu barista yang lagi kangen kampung karena sudah lama menetap di Bali. Mas Iwan si seniman gendeng dan Lukman barista perantau menemani kami melewati malam minggu di Ubud. Mas Iwan mengajakku dan Dekcer untuk melihat gallerynya. Bahkan dia memberikan satu lukisan ke Dekcer.

Pose di belakang lukisannya Bang Iwan

Aku dan Dekcer berpose bersama Bang Iwan

Aku tidak akan pernah melupakan 3 hari yang indah di Ubud. Banyak hal yang kudapatkan dari #PiyambakanTrip di Ubud ini. Ah, apalah artinya perjalanan bila tidak bertemu dengan orang-orang baru dan hal-hal baru. Semua kecemasanku berubah menjadi kebahagiaan dan ini menyenangkan! Aku harus melakukannya lagi!

 

 

1 Comment

  1. ayo di aktivin mba nulisnya 😀
    biar kita tetep saling berkunjung..

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*


5 × = thirty five

© 2017 Utied Putri

Theme by Anders NorenUp ↑