Page 2 of 9

#PiyambakanTrip: Mari Memulainya!

Hualoo!!

#Piyambakan itu memang kadang-kadang terasa tidak enak. Apalagi kalau #PiyambakanTrip. Beberapa orang menganggapnya aneh. Jalan-jalan kok sendiri? Berbeda dengan diriku yang pengen banget ngerasain #PiyambakanTrip dan ini baru bisa aku lakukan di awal April.

Istilah #PiyambakanTrip baru aku kenal dari Enthon9 dan Bernad yang sering banget share tentang #PiyambakanTrip mereka di Twitter atau Instagram.  Pertama mendengar itu, langsung terlintas di benakku, “aku kudu melakukannya suatu hari nanti!”

Continue reading

Hati, berbahagialah

Hati, sedang apa kamu duduk bermuram durja di sana?
Kenapa kamu malah memilih berlindung di dalam awan gelap itu?

Hati, kenapa mesti menangis?
Siapa lagi yang menaburkan garam di atas luka yang belum sembuh itu?

Hati, kenapa harus menyerah?
Bukannya kamu sendiri yang selalu berperang dengan logika?

Hati, turunkan bendera putih yang terus kau kibarkan itu.
Tegakkan lagi panji-panji kemenangan yang dulu pernah kau banggakan itu.

Ke marilah. Mendekatlah bersamaku di bawah pelangi ini.
Untaikanlah senyuman yang pernah menjadi senjata mautmu.
Atau, terbang lah ke bulan bersama sayap mu yang telah kau lupakan.

Apapun itu, berbahagialah!

Peringatan: Dilarang Mengetuk!

20121120-222403.jpg

Sembunyi-sembunyi, Gadis mengintip ke luar lewat jendela depan. Terlihat olehnya sesosok pria berdiri di depan pintu rumah. Pria itu lagi, desah Gadis. Ketukan pintu terdengar beberapa saat kemudian, bunyinya menggema dalam sepinya ruangan. Gadis diam terpaku, menikmati gema yang tersisa. Lama berlalu, terdengar langkah kaki berjalan menjauh di luar sana. Gadis masih diam terpaku.

Pria itu sudah lama memasuki ruang pikiran Gadis dengan membawa segala paket keanehan yang dimilikinya. Kemunculan pertama bermula ketika pandangan Gadis menangkap seseorang pria yang sedang berjalan pelan di sekitar pekarangan rumahnya sambil memperhatikan ke dalam rumah. Tatapan mereka bertemu dan pria itu melemparkan senyum ramah untuk Gadis.

Continue reading

140 Karakter

Your fingertips across my skin
The palm trees swaying in the wind
Images

You sang me Spanish lullabies
The sweetest sadness in your eyes
Clever trick

Dear Lelaki yang bermata tajam, yang pernah menatapku begitu dalam, sehingga terasa di lubuk hatiku yang tergelap, aku ingin jujur kepadamu, aku terpesona kepadamu.

Kamu dengan pesonamu, kamu dengan tatapanmu, bahkan suaramu yang dalam itu saja dapat membiusku, iya, kamu, kamu sudah memenjarakanku di sini.

@lelakibermatatajam: “our voice maybe small, but together we can make the world hear us.”

Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu, bukan dari sebuah perjumpaan biasa, aku mengenalmu dari kicauanmu. Tertawa geli aku mengingatnya, bagaiamana dunia maya menjadi awal perkenalan kita.

Ketika itu aku kagum kepadamu, kamju memang masih muda tapi mau berjuang untuk orang lain yang sedang kesusahan, kamu memilih 140 karakter untuk meneriakkan ketidakadilan dunia di hari itu. Teriakanmu terdengar di telingaku, kemarahanmu dapat kurasakan melalui mataku. Sejak saat itu aku kagum padamu.

Social Media memang dunia yang unik, tak pernah kuduga salah satu keunikannya adalah bisa membuat seseorang jatuh cinta, dari sosok pencitraan dunia maya. Aku tahu aku bukan satu-satunya.

@aku: ~And he fights for his life. Where people are pleasantly strange, And counting the change. And he goes..Nobody knows~

Semenjak saat itu, kusaksikan perjuanganmu setiap hari, untaian kata-katamu dalam dunia 140 karakter, entah kenapa ketika itu aku bisa merasakan kuatnya kharismamu. Tak pernah sedikitpun kamu mengeluh, walaupun kamu tahu perjuanganmu sulit, namun kamu tetap selalu yakin. Itu yang membuatku kagum.

Perkenalan pertama kita pun lewat sapaan di dunia maya ini. Temenku yang iseng mengajakmu dalam obrolan kami. Dan aku heran kenapa kamu mau menanggapi yang orang asing ini bahkan mau ‘mengikutiku’ padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya. Wajar saja sih sebenarnya perkenalan seperti ini, namun aku tetap merasa ini seperti sebuah sanjungan bagiku.

Lalu kita mulai berkomunikasi, terkadang berupa komentar atas quote-quote yang kita lemparkan, terkadang hanya menambahkan senyum di kalimat 140 karakter masing-masing. Pesanmu dalam inboxku selalu kubaca berulang kali, kupikir saat itu ini hanya obrolan biasa, tapi ternyata aku salah.

@lelakibermatatajam: “Kita memiliki rute yang sama, daerah yang berdekatan, tapi kita tak pernah bersinggungan, katakan di persimpangan mana kamu berbelok?

Kita mengenal orang-orang yang sama, berada di lingkup pergaulan yang sama, tapi kita tak pernah bertemu sebelumnya. Padahal seharusnya, aku sudah mengenalmu dari dulu, tapi  Takdir, si Mak Comblang yang labil, malah memilih bulan Mei sebagai saat pertemuan kita pertama. Di kafe yang sebenarnya adalah tempat favorite kita walau kita tidak pernah sama-sama berpapasan sebelumnya karena kita mempunyai  jam kunjung yang berbeda.

Genggaman tanganmu di waktu itu, hangat, erat dan membawa perasaan menyenangkan bagiku. Kamu sudah seperti yang kukira, kamu begitu kharismatik. Suaramu yang tegas menggambarkan watakmu yang keras. Dan aku pun terjatuh pada pesonamu, di malam itu.

Sejak saat itu, kita bergulat di dunia 140 karakter, saling berkomentar, saling mengirim pesan, dan yang tidak kamu tahu aku sebenarnya tentu saja berita tentangmu lebih banyak daripada berita yang menyebutkan namaku.

@lelakibermatatajam: “Topeng yang kalian sebut #pencitraan itu, suatu saat akan menjebak kalian. Apakah kalian begitu lelah menjadi diri sendiri?

Ketika semua orang berusaha menampilkan pencitraan diri yang bagus atau rapuh sekalian di dunia itu, kamu termasuk di segelintir orang yang tak pernah menipu dengan menghadirkan sosok yang berbeda. Kamu tetap tampil menjadi dirimu sendiri. Itu adalah salah satu perbedaanmu. Kamu tidak pernah memakai topeng apapun.

Aku salah menerjemahkan perasaanku. Kukira awalnya hanya sebuah kekaguman, sebuah apresiasi terhadap sosok yang indah, tapi bukan, itu lebih dari sebuah kekaguman. Rasa itu berubah jadi sebuah perasaan yang dalam, kepadamu.

Tapi aku benci! Aku benci pada situasi di mana aku terkukung oleh dirimu, Tahu kah dirimu, semua tentang dirimu telah memenjarakanku di sini? Di ruang hatiku sendiri. Bahkan aku tak bisa melihat yang lain. Semua tertutup oleh pesonamu.

Suaramu dan candamu bahkan selalu terdengar di telingaku, walaupun kamu tidak berada lagi di sekelilingku. Kamu ada di bayangan kaca ketika aku bercermin. Kamu ada di sekelebatan pandangan setiap aku menorehkan kepalaku. Kamu ada di sudut mataku ketika aku sedang melirik. Kamu ada di ujung helai rambut yang terjatuh di keningku.

Aku tidak mungkin memilikimu, aku tahu itu. Sudah ada dia yang tak kalah indahnya, di sebelahmu. Terkadang aku bingung, apa yang kamu ceritakan tentang aku kepadanya? Dia adalah seseorang yang terkenal juga, tiba-tiba ingin mengenalku, begitu saja. Dan kamu hanya berkomentar;

@lelakibermatatajam: “Never taught yourself as an ordinary person, you’re so amazing and that makes you an extraordinary person.”

Hal lain yang membuatku menyukaimu adalah, kamu sangat jenius, aku heran dengan hal-hal yang bisa bercokol di otakmu. Kamu adalah orang paling enak diajak bertukar pikiran. Berdiskusi denganmu takkan pernah bisa sebentar, selalu dipenuhi dengan mimpi-mimpi yang ingin kita raih. Target-target yang ingin kita capai. Tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Bahkan kita memiliki kota yang impian yang sama, Itali. Salah satu dari persamaan di antara banyak perbedaan kita.

@lelakibermatatajam: “Ingin berjalan-jalan sore, di pelosok Florence sambil bercerita tentang sejarah dari setiap patung yang berdiri di sana, sambil menggenngam tanganmu.

Andai saja aku mau memperjuangkan perasaan kepadamu. Andai saja aku bisa menjadi diri sendiri. Andaikan aku tidak terikut dengan orang-orang lain, aku tidak menampilkan pencitraan yang berbeda, mungkin, mungkin sekarang ini kita masih bisa berdekatan.

Terlupa olehku betapa kamu tidak menyukai orang-orang yang menipu dirinya sendiri itu. Karena aku kini malah menjadi salah satu dari mereka. Menampilkan diriku di dunia itu dengan topeng yang berbeda, hanya agar orang-orang mengenalku. Seperti orang-orang mengenalmu.

@lelakibermatatajam: “Pelangi yang dulu kulihat di matamu, telah berganti menjadi hujan karena tarian yang kamu mainkan sendiri.

Apakah itu buatku? Apakah aku begitu berubah? Apakah aku sendiri yang menyebabkan kamu menjauh?

Walaupun kita tak pernah berbalas lagi di dunia itu , aku tetap mengikuti perkembanganmu. Aku tahu bahwa tidak lama lagi kamu akan segera meninggalkan kota ini. Pergi untuk mengejar mimpimu.

I never want to see you unhappy
I thought you’d want the same for me

Kamu dan mimpi-mimpimu. Mimpimu adalah hidupmu, mimpimu adalah nafasmu, semua langkahmu adalah untuk mengejar mimpimu. Sementara, mimpiku adalah bisa berada dalam mimpimu.

Impianku adalah bisa berada dalam impianmu. Doaku adalah melihatmu mencapai semua mimpimu, tapi doa egoisku yaitu kamu menggapai mimpimu bersamaku.

Ahh kamu lelaki yang bermata tajam yang sangat kusayangi. Maafkan aku yang terlalu jatuh dalam pesonamu. Tak pernah kusesali hatiku yang tertoreh namamu, tapi kusesali tak sempat kuukir namaku di hatimu.

Setiap sakit yang kurasa bila melihatmu berbicara dengan Dia, tak sebanding dengan kegembiraan melihat sosokmu di hadapanku. Setiap keresahan karena jauhnya dirimu, terhapuskan dengan kegembiraan karen kemunculanmu di garis masaku.

Bukanku tak ingin jujur padamu, kata-kata pengakuan itu selalu tertelan, kalah oleh tatapan tajam matamu. Toh rasa ini juga indah bila disimpan sendiri. Setidaknya aku meyakini itu.

Goodbye, my almost lover
Goodbye, my hopeless dream

Mungkin perasaan ini tak seharusnya tersampaikan. Karena pesonamu pun terlalu indah untuk dilupakan. Hanya senyum dan doa yang kupersembahkan untukmu, mengawali perjalananmu esok.

Aku tetap ada di sini, menunggumu untuk berbagi cerita lagi, wahai lelaki bermata tajam. Kuharap matahari di kota itu takkan mengurangi kharismamu, dan badai yang kan kau temui kelak hanya akan membasahimu sekejap. Mungkin aku tak bisa berlari membawa payung untukmu, tapi akan selalu ada awan kirimanku yang menjagamu. Jadi jangan pernah kamu takut.

@aku: “Awal perjalananmu, awal penantianku. Jangan khawatir, setiap kamu menoleh, ada aku yang berada di sini menunggumu.

@aku: “ Kuusir hujan dengan mantra terindah. Bila kamu kembali nanti, akan kamu lihat pelangi yang sama, masih menghias di mataku.

Silahkan melangkah lelakiku , semoga kita bisa bertemu di impian yang sama. Kamu tetap menjadi impianku.

 

*terinspirasi Almost Lover – A Fine Frenzy*

Malam Milik Dina

21.30 WIB
Dina mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, pelan dia menyenandungkan seuntai nada tak berjudul yang dia temukan ketika mandi tadi. Lagu tak berjudul itu menemani dia menguraikan helai rambutnya yang terjalin kusut. Sesekali matanya melirik ke arah jam dinding Mickey Mouse yang telah menemani dia 2 tahun ini.
Jam itu adalah pemberian Pandu, padahal Dina tidak menyukai Mickey Mouse ataupun tokoh kartun lainnya, Pandu memenangkan jam itu di sebuah pasar malam kecil di alun-alun di malam pertama kencan mereka.
Walaupun begitu jam itu telah berjasa dalam mengingatkan waktu karena Dina termasuk gadis yang lelet. Kata Pandu waktu itu, jam itu akan mengingatkan bahwa waktu itu begitu sederhana, kita tidak butuh pengingat berbentuk bagus untuk menyadarkan betapa waktu dapat berlalu dengan cepat. Dina tersenyum mengingatnya.

21.40 WIB
Rambutnya sudah kering, Dina pun meraih catok yang baru dia beli sore tadi. Catok baru itu dia gunakan untuk membentuk rambutnya ikal. Pandu selalu bilang dia menyukai rambut Dina yang lurus, namun Dina memberanikan diri untuk tampil beda malam ini.
Malam ini berbeda dengan malam lainnya, Dina sudah menunggu malam ini sejak 3 bulan lalu. Dia bahkan sudah mengajukan ijin sehari pada bosnya untuk tidak bekerja hari ini demi mempersiapkan malam istimewanya.
Dina bahkan sudah membeli baju, lipstik dan kuteks baru.
Pandu layaknya cowok lain, tidak terlalu suka bila pacarnya menggunakan dandanan yang terlalu berlebihan. Pandu menyukai hal-hal yang sederhana, padahal seringkali Dina ingin tampil lain dari biasanya, untuk Pandu. Setiap kali Dina berdandan yang berbeda, Pandu hanya mengerlingkan matanya dan diam saja. Tapi malam ini saja, Dina ingin sekali Pandu memujinya.

21.55 WIB
Rambut sudah, sekarang tinggal dandanan saja, lipstik merah menyala ini akan cocok dengan mini dress merah bunga-bunga ini, pikir Dina. Dia menyapukan kuas blush on ke pipinya, setelah merasa sempurna, lipstik merah yang baru itu dia sapukan tipis-tipis di bibirnya.
Selesai dengan perlengkapan perang, Dina meraih baju yang sudah disetrika rapi di atas tempat tidurnya. Pandu suka sekali bila Dina menggunakan mini dress atau dress langsungan bukan celana jeans dan kaus yang merupakan seragam Dina sehari-hari. Terasa lebih wanita, menurut Pandu. Dina sih senang-senang saja memakai baju-baju model begitu, sayang bila berbelanja baju, dia tetap saja memilih kaos dan jeans lagi. Dina berjanji untuk menambah koleksi mini dress-nya demi Pandu.
Pandu bukan cowok yang senang memuji, tapi sekalinya Pandu melontarkan pujian, Dina bagaikan melayang tujuh hari tujuh malam gak mau turun-turun ke bumi. Ah wanita, setinggi apapun gengsi dan egonya, tetap saja lemah terhadap pujian tulus dari sang pujaan hati. Apalagi dari orang yang pelit pujian seperti Pandu.

22.10 WIB
5 menit lagi, Dina mengingatkan dirinya sendiri, dia pun berjalan ke meja kerjanya dan menghidupkan laptopnya. Lalu dia klik ikon Skype di layar dan segera bersiap menunggu Pandu untuk menghubunginya.
Ya malam ini adalah malam istimewa karena ini malam pertama mereka bisa bertatap muka(walaupun lewat webcam saja) setelah terpisah selama 6 bulan.
Satu tahun ini mereka berdua ber-LDR ria, pada awalnya Dina tidak pernah mau menjalankan hubungan yang hanya berisi omongan-omongan tanpa pertemuan. Apalagi mereka LDR-nya gak tanggung-tanggung, Indonesia dengan Hanoi itu ternyata jauh juga, ini baru Dina sadari. Dan komunikasi tidaklah lancar karena terkadang Pandu dikirim ke lokasi-lokasi yang tidak memiliki jaringan internet yang baik.
Namun cinta ternyata egois, bisa menomorduakan logika dan fakta. Dan baru kali ini Dina merasa diperbudak oleh rasa kangen. Masih lekang di ingatan  Dina ketika mereka berada di bandara, Pandu menatapnya dan berkata “Aku yakin ada kamu dalam masa depanku, aku minta kamu untuk percaya itu dan mau bekerja sama denganku menuju masa depan kita. Aku hanya minta kamu mau menunggu dan percaya padaku, aku akan mengusahakan masa depan yang indah untuk kita, makanya aku harus pergi sekarang. Aku harap kamu mau.” sebuah permintaan yang indah, bagaimana mungkin Dina menolaknya, karena dia pun ingin menemui Pandu di masa depannya.
Setiap hari Dina lewati dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertempur di pikirannya, bagaimana hari-hari yang Pandu lalui, apakah dia baik-baik saja di negeri orang sana dan malam ini Dina akan mendapatkan jawabannya. Dina tak sabaran untuk segera mendengarkan cerita perjuangan Pandu dan petualangan-petualangan Pandu, terlebih lagi dia ingin meyakinkan pada Pandu bahwa dia akan tetap menunggu Pandu untuk menjemputnya menuju masa depan mereka. Dina ingin menyemangati Pandu dan mengatakn bahwa dia akan selalu ada untuk Pandu dan hanya demi Pandu.
Malam ini Dina akan mengalahkan sedikit rasa kangen yang selama ini melemahkannya. Malam ini Dina merasa puncak kangen yang sudah dia daki dari setahun lalu mulai terkikis. Malam ini, milik aku dan Pandu saja, selangkah lagi menuju masa depan kami.

*terinspirasi dari lagu Sheila on 7 – Bertahan Di Sana*

A Smile From The Corner

“Whenever sang my songs

On the stage, on my own

Whenever said my words

Wishing they would be heard”

“Hadirin sekalian, mari kita sambut Randika Putra!” MC menyebut nama itu dengan lantang, seorang pemuda dengan sosok tegap menaiki podium dengan senyuman manis dan tatapan percaya diri. Penonton menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah.

“Selamat malam semua. Terima kasih, terima kasih. Malam ini saya akan menjelaskan mengenai program Earth Hour For Better Future kepada anda semua, ya doakan saja presentasi saya berjalan singkat sehingga kita bisa pulang dengan cepat.” Randika Putra memberikan kata sambutan dengan candaan, disambut dengan tawa serempak dari para penonton.

Sementara di sudut pojok aula itu, seorang gadis sedang duduk sambil membaca agendanya. Ketika Randi memulai presentasinya, Nana -nama gadis itu- pun menengadahkan kepalanya. Dia memperhatikan Randi sambil sesekali tersenyum. Randi dan Nana sudah bersahabat sejak lama. Pertemuan mereka dimulai ketika mereka bergabung di sebuah komunitas pencinta alam. Randi adalah salah seorang aktivis pencinta alam yang kini mulai dikenal orang atas kepeduliannya pada lingkungan. Dan Nana juga berkecimpung di lingkungan yang sama, tapi dengan ketertarikan yang berbeda dengan Randi.

Nana mengerti betul pesona yang dimiliki seorang Randi. Randi adalah aktivis lingkungan dengan karismatik yang kuat. Dia memiliki kemampuan yang bisa mempengaruhi orang banyak agar mau menyayangi lingkungannya. Randi yang bersahaja, Randi yang ramah, Randi yang baik, Nana sudah khatam akan itu semua. Sedangkan Nana hanyalah seorang anggota biasa saja dalam komunitas itu, walaupun bagi Randi dia adalah seorang pendengar yang baik. Dia dapat mendengarkan dengan sabar semua rencana-rencana, petualangan-petualangan, dan mimpi-mimpi Randi.

“Jadi, dengan program ini kita dapat menghemat pemakaian listrik di daerah kita sebanyak 20% dari biasanya…” Randi masih berada di podium melanjutkan presentasinya. Matanya berkeliling memandang ke seluruh orang di depannya dengan dihiasi senyuman. Nana berharap senyuman itu untuknya, tapi Nana tahu itu adalah senyuman biasa saja.

“I saw you smiling at me..
Was it real or just my fantasy”

“Kamu harus ikut diskusi besok.” kata Randi sore itu ketika mereka lagi menikmati sore di halaman rumah Nana. Nana menatapnya bingung, “Loh, kan yang jadi diundang jadi narasumber itu kamu, kenapa aku harus ikutan juga?” tanyanya kemudian.

“Aku baru sekali ini diundang mereka, aku butuh muka yang kukenal untuk menenangkanku” rayu Randi dengan mata memelas. Nana langsung cemberut, “Jadi aku hanya sekedar ‘muka yang dikenal’ ya? Nih bawa saja fotoku, letakin di mimbar” Nana membuka dompetnya dan memberikan foto dirinya.

Randi meraih dan memandang foto itu, “Kalo cuma foto aja gak ngefek lah Na. Aku harus disenyumin , diteriakin, disemangatin, foto gak bisa bergaya cheerleader Na.”

Nana diam sejenak dan akhirnya berkata “Iya, iya, gak usah kamu suruh, aku juga datang kok, aku kan diundang juga ama mereka.”

Randi tersenyum “Makasih ya.” ujarnya sambil memasukkan foto Nana ke dalam tas. Nana memandang heran akan tingkah laku Randi tapi tidak protes, Randi yang aneh, pikirnya.

“Apakah ada yang mau bertanya mengenai program ini?” Randi membuka sesi tanya jawab.

Nana mulai bersiap mencatat di agenda andalannya sambil tetap memperhatikan Randi. Randi berpesan untuk menulis data siapa-siapa saja yang bertanya, sebagai masukan untuk program ini.

Harusnya pekerjaan seperti ini adalah tugas sekretaris atau pacarnya, bukan aku, Nana ngomel-ngomel dalam hati. Kayak-kayak gini kok larinya ke aku, makanya jangan LDR, masih saja Nana mengomel dalam hati.

Randi sebenarnya punya pacar, sayangnya sang pacar berada di kota yang nun jauh sana. Keberadaan si pacar memang jarang diakui karena Angel si pacar, adalah seorang model yang baru merintis karirnya. Randi baru saja memulai hubungan itu ketika dia berkenalan dengan Nana. Nana sebenarnya ingin berteman baik dengan Angel, tapi sayang Angel terlalu dingin untuk diajak berteman. Angel hanya mau memandang dan menanggapi Randi, tapi tidak pernah mau mengenal Nana.

Pernah di suatu sore Randi mengeluh padanya, “Aku sudah capek untuk mengikuti mau Angel. Dia menuntutku untuk segera pindah ke Jakarta menyusulnya. Dia bilang di Jakarta lebih banyak peluang masa depan daripada di sini. Dia gak ngerti apa, kalo di sini juga banyak peluang yang lebih cocok untukku? Dan sebenarnya masa depan apa sih yang dia inginkan dariku?”

“Maksud dia kan baik, Ndi. Dia pengen agar kamu lebih maju lagi dari yang sekarang. Kamu bisa lebih dari yang sekarang ini. Tapi kamu sebenarnya gak mau, karena saran itu berasal dari dia kan? Kamu gak mau disuruh-suruhkan? Egomu yang berbicara bukan logikamu.” seperti biasa Nana mengeluarkan jurus mautnya. Randi tertunduk, kalau sudah tahu salah aja baru diam, omel Nana dalam hati.

“Aku merasa Jakarta bukan buat aku. Aku merasa di sinilah aku harusnya berada. Kalau semua orang pergi ke sana, bagaimana dengan hal-hal yang dapat kita lakukan di sini?” pembelaan Randi.

“Kalo itu aku gak bisa mendebatnya, rezeki itu ada di mana aja kok. Karena menurutku , The place where I wanna be is the place where I belong , a place that I can call mine. Percuma aja kalo kita gak ada hati untuk berusaha di tempat yang kita gak sreg” kata Nana.

Randi memandangnya dan tersenyum. “Sebuah quote kalo kamu yang ngomong kok jadinya bagus banget ya?”.

Muka Nana bersemu merah. “Udah ah, gimana soal pembicara di acara diskusi SMA 5 besok? Aku belum lihat persiapanmu.” Nana berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Harusnya kita lebih sering kerja bareng Na. Aku yang bagian santai-santainya, kamu otaknya kebagian yang susah-susah. Terus juga bagian pendengar setia.”

“Kan biasanya emang begitu? Aku yang kebagian pusingnya, sibuknya, plus nontonin kamu. Tidak dibayar pula”

“Kubayar pake hati aja deh. Tapi kutebus dulu dari pegadaian depan ya.” jawab Randi. Mereka pun tertawa bersama. Dan akhirnya menutup pertemuan malam itu dengan nongkrong di angkringan langganan mereka.

“Oke, terima kasih buat pertanyaannya. Saya jawab satu-satu ya.” Randi kembali melemparkan senyuman buat penontonnya. Nana masih berharap senyuman itu buat dia.

Ada 2 hal yang tidak diketahui oleh Randi. Pertama, Nana sebenarnya menyimpan perasaan buat Randi, yang kedua adalah Nana memutuskan untuk tidak melanjutkan perasaan itu untuk menghormati permintaan Angel.

Angel menghubungi Nana beberapa minggu lalu. Ketika itu Randi lagi berada di Jakarta. Angel ternyata sedang bersama Randi dan dia berhasil membongkar pesan-pesan Randi dan merasa terganggu dengan kedekatan mereka.

“Jadi, saya mohon ya Nana. Kamu jangan terlalu dekat dengan dia. Randi bilang kalian memang cuma berteman, tapi saya tidak suka dengan pertemanan kalian. Randi tidak perlu tahu mengenai pembicaraan kita ini, aku tidak ingin dia menilaiku jelek. Tapi aku bisa memintamu tolong padamu kan, bukan soal kerahasiaan saja tapi juga mengabulkan keinginanku. Kamu masih boleh berteman dengannya. Hanya jangan terlalu dekat kalo bisa menjauhlah darinya. Aku tidak bisa berada di sisi Randi sebanyak kamu berada bersamanya. Aku tidak ingin dia jadi berpaling padamu. Aku harap kamu mengerti.” permohonan Angel lewat sebuah email untuk Nana.

Setelah berpikir lama, Nana memilih untuk menyalahkan dirinya dan mundur dari hubungan antara Randi dan Angel. Nana memahami bahwa Randi selama ini hanya butuh dia sebagai pendengar,tidak lebih dari itu. Perasaan Nana tidaklah penting apabila hanya mengganggu hubungan Randi dan Angel. Oleh karena itulah dia memilih untuk menerima tawaran kerja di Bandung tanpa memberitahu Randi. Malam ini adalah malam terakhir dia menemani Randi. Tapi Randi tidak perlu tahu itu. Biarlah ini menjadi kejutan untuknya, tegas Nana pada dirinya sendiri. Nana kemudian tersenyum manis ke arah sosok yang selama ini sebenarnya dia kagumi itu.

“You’d always be there in the corner…Of this tiny little bar”

“Sekian penjelasan saya, mari bersama kita sukseskan program Earth Hour minggu depan. Bersama kita bisa! Terima Kasih!” Randi pun menutup presentasinya. Sambil membereskan berkasnya, dia memandang ke arah pojok ruangan itu. Nana masih di sana, dia tersenyum lega. Di sudut hatinya, Randi merasa semua kegiatannya berjalan lancar bila ada Nana di dekatnya. Dengan Nana yang menatapnya, tersenyum padanya, semua kecemasan dan keraguannya menguap begitu saja. Namun Randi juga mulai menyadari, keberadaan Nana tidak hanya sebagai ‘muka yang dikenal’ saja. Dengan Nana di sisinya, semua petualangan biasa berubah menjadi istimewa. Dia pun kini mengerti, ternyata perasaannya pada Nana telah berubah dari sekedar teman biasa. Sayangnya pemahaman itu baru dia muncul akhir-akhir ini.

“So let me come to you.. Close as I wanted to be

Close enough for me..To feel your heart beating fast

And stay there as I whisper. How I loved your peaceful eyes on me

Did you ever know.. That I had mine on you”

Malam ini Randi ingin menyatakan perasaannya pada Nana. Dia tak ingin menyimpan ini lama-lama. Dia sudah memutuskan hubungannya dengan Angel kemarin, walau Angel tak sepenuhnya setuju dan masih meminta penjelasan darinya. Demi kewarasan hati maka Randi memutuskan dia tak ingin Nana keburu menjauh darinya.

Turun dari panggung, Randi berjalan dengan wajah tersenyum ke arah Nana. Nana pun menyambutnya dengan senyuman khasnya yang selalu menenangkan hati Randi.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu Nana, sekarang.”

Inspired from a song : Faye Wong – Eyes on me

Candu

Sayangnya aku candu pada harapan-harapan yang ditebarkan percuma itu

@utieed

Post Mudik Syndrom

Yang namanya perubahan, tidak semua orang bisa menerimanya dengan baik. Ada yang menolak, ada yang bisa beradaptasi dengan cepat dan ada yang malah belum tersadar dengan perubahan yang telah terjadi di sekitarnya.

Sementara bagi diriku sendiri, dalam beberapa hari ini, ada 2 perubahan yang baru saja disadari dan ternyata pembelajaran untuk menerima perubahan itu sangatlah susah, banget!

Continue reading

Yang Telah Mampir

Dia hanya mampir sebentar

Tidak lama, hanya sebentar

Hanya berkunjung , tidak menetap

Dia hanya mampir sebentar

Hanya bertukar impian

Tidak bermaksud untuk mengejar bersama

Dia hanya mampir sebentar

Hanya berbagi tawa

Hanya berbagi keluh kesah

Dia hanya mampir sebentar

Ada romansa tertoreh

Tapi tidak untuk lama

Tidak untuk seterusnya

Dia telah pergi lagi

Mengejar mataharinya

Karena matahari kami berbeda

Tidak ada janji yang disepakati

Tidak ada mimpi yang diangankan

Karena dia hanya mampir sebentar

Karena dia tak diminta untuk tinggal

Karena pemilik sebenarnya sebentar lagi akan pulang

Melanjutkan cerita dan janji sebelumnya

I Hate Myself

And i hate my self when i imagined my life with you. Coz i know that’s impossible.

« Older posts Newer posts »

© 2017 Utied Putri

Theme by Anders NorenUp ↑